Tampilkan postingan dengan label Melatih Kemandirian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Melatih Kemandirian. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Maret 2017

Aliran rasa melatih kemandirian

Assalamualaikum
Bismillahirrohmanirrahim

Berbeda dengan tantangan yang sebelumnya,tantangan ini lebih runtut saya lakukan. Jika dilihat dimana bedanya, mungkin salah satu faktor yang saya anggap adalah dari segi waktu dan dari segi penggunaan media penulisan.

  1. Di tantangan sebelumnya, saya sedang pulang kampung yang pastinya jarang bisa pegang hp bahkan laptop, dan juga kalau malam sudah terlanjur capek. Yang sekarang alhamdulillah, saya insyaallah bisa bagi waktu di waktu senggang saya. Di saat saya lagi selonjoran, ketimbang buang waktu bisa dipakai menulis laporan dari tantangan yang dilakukan.
  2. Faktor media sosial yg digunakan untuk menyetor itu berhubungan sekali dengan tugas saya. Hmm bisa dibilang saya bukan atau malah belum terbiasa bercerita mengenai keseharian saya dan keluarga di media sosial seperti fb dan ig. Apalagi di media sosial tersebut orangtua dan mertua saya ada di sana, saya jadi sedikit malu. Mungkin lain halnya jika nanti saya punya anak, timeline isinya tentang anak saja dan mereka juga bisa tahu mengenai keseharian cucu-cucunya. Di blog saya lebih merasa bebas untuk bercerita apapun.
Di awal-awal saya merasa bingung sendiri mengenai kemandirian apa yang harus saya latih untuk diri saya dan bisa saya ceritakan ke orang lain. Apalagi saya dengan status LDM, mau tidak mau ya harus mandiri dan sudah saya lakukan. Kemudian saya berpikir, oh mungkin dari hal simpel yang sebenarnya saya bisa pilih untuk tidak mandiri tetapi saya melakukannya dengan mandiri bisa menjadi salah satu hal yang terus saya latih. Alhasil keluarlah cerita tentang saya melatih diri untuk tetap mencuci dan menyetrika baju sendiri, berusaha mengolah data sendiri untuk penelitian saya, melatih rasa takut, dan lain-lain.

Saya selalu suka mengaitkan apa yang terjadi dengan suatu hikmah atau kebaikan-kebaikan ataupun kekurangan terkait yang saya lakukan. Dari tugas tantangan terakhir yang paling saya sukai adalah saya jadi mulai ketagihan menulis. Tulisan saya menjadi lebih panjang dan kelihatan tidak sekedar untuk mengerjakan tantangan. Lebih berkualitas dibanding sebelumnya (ini menurut saya sendiri haha). Bismillah semoga usaha saya mengerjakan tantangan ini menjadi salah satu usaha saya untuk segera dipercaya Allah untuk segera menjadi ibu. Aamiin

#aliranrasa
#melatihkemandirian

Minggu, 05 Maret 2017

Minggu Mandiri

Hari minggu sebenarnya adalah hari yang membuat saya bingung mau makan apa. Warung-warung makan langganan tutup di hari minggu. Alhasil biasanya tiap minggu makannya kurang sehat, biasanya sih tanpa sayur.

Minggu ini saya memutuskan untuk memasak sendiri. Kebetulan lagi kangen makan oseng toge. Dari kos sudah di catet, bahan-bahannya apa aja dan juga belinya dimana. Setelah beres cuci mencuci baju, saya berangkat ke warung 1. Kenapa saya beri nomor? Iya karena untuk masak masakan saya yang sederhana,saya perlu ke 2 warung.

Di warung 1, saya beli tomat,cabe merah, daun bawang, tempe, putih telur,ketumbar dan kunyit bubuk. Di warung it saya juga beli tahu bacem dan nasi kucing, pikir saya untuk sarapan dulu. Ternyata di warung 1, bahan utama alias togenya nggak ada, makanya saya lanjut ke warung 2. Di warung 2 lebih lengkap dan lebih rame, mungkin karena penjualnya baru pulang dari pasar.

Saya memutuskan untuk masak di siang hari, karena kebetulan saya ada acara. Siangnya saya mulai standby di dapur, sibuk kupas bawang, ulek bumbu, goreng-goreng. Hehehe rindu juga dengan dunia perdapuran. Aniway, sudah sebulan saya tidak mengasah keterampilan masak saya.

Dan taraaa ini hasil masak saya, oseng toge putih telur. Rasanya nggak kalah sama makanan restoran ahahaha. Dengan bangganya, saya kirim fotonya ke suami, kakak, adik ipar, dan ibu saya. Eh kakak saya,jeli banget pengamatannya sampai nanya, itu kenapa dikasih daun salam. Saat itu saya sadar, eh itu daun salam ya, saya kira daun jeruk..upsss

#level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Sabtu, 04 Maret 2017

Tujuan akhir hidup mandiri kami

Ini hari terakhir suami saya di jogja, setelah sejak hari kamis kami bersama. Mau nggak mau, saya harus melakukan apapun sendirian lagi. Yang sebelumnya makan bersama, sekarang mulai lagi untuk terbiasa sendirian.

Yang namanya tinggal masing-masing karena terpaksa berpisah ya memang saya harus terbiasa mandiri. Selama tinggal di jogja, saya berlatih mandiri untuk masang gas sendiri, ganti lampu sendiri, intinya mengurus apa-apa sendiri. Tapi nelangsanya kalo udah makan sendiri ya kadang sedih sendiri sih.

Saya pernah ingat di awal pernikahan kami, waktu itu saya mau pulang ke jogja dari tangerang. Bawaan saya lumayan berat, awalnya saya biarkan suami saya bawa sendiri hehehe. Akhirnya dia bilang, kita ini sekarang tim, ayo bantu bawa berdua. Dari kata-kata "tim" ini saya selalu mengingatkan diri saya bahwa saya sudah menikah dan harus bekerja sama dengan pasangan saya. Walaupun saat ini kami masih LDM, kami adalah tim yang saat ini sedang dilatih untuk mandiri, sehingga ketika kami akhirnya bersama bisa menjadi tim yang solid, menguatkan, dan bisa bekerja sama. Saya yakin,insyaallah kemandirian saya dan suami saat ini adalah bekal untuk nanti hidup kami bersama di dunia dan akhirat.

#level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Kamis, 02 Maret 2017

Melatih kemandirian = berlatih tega + berlatih tegas

Alhamdulillah hari ini suami saya datang mengunjungi saya ke jogja. Insyaallah ia akan menemani saya hingga tgl 4. Kami lagi promil, minta doanya ya supaya Allah mudahkan hehe.

Suami saya ini sebenarnya orangnya tegas (lebih tegas daripada saya) tetapi kadang-kadang untuk hal tertentu perlu untuk diminta tegas. Seperti saat pemilihan makanan siang tadi, dia bingung sendiri mau pilih menu apa karena ingin semua dimakan (pecinta kuliner) hihi. Malemnya kejadian yang sama terulang. Jadi saya perlu menegaskan menu yang benar-benar ia inginkan.

Kadang saya berpikir, apa saya yang terlalu memanjakan atau terlalu melayani ya. Situasi kami yang jauh-jauhan seringkali membuat saya kasian dengan suami saya,apa-apa dilakukannya sendiri. Jadi setiap kami bertemu pengennya memberi pelayanan terbaik hingga hal-hal yang kecil seperti mengambilkan air minum. Apalagi ketika saya ingat, jika mengambil air minum untuk suami,istri insyaallah dapat pahala yang banyak.

Ini baru suami ya, belum nanti kalau sudah ada anak ya hihihi. Tega dan tegasnya harus ekstra.

#level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Rabu, 01 Maret 2017

Melawan rasa malas dan takut

Saya sedang melakukan penelitian saya dibantu asisten penelitian saya. Jadi ceritanya tinggal 1 orang yang belum diambil datanya dan orang tersebut hari ini dinas malam. Kebetulan asisten penelitian saya malam ini ada acara sehingga tidak bisa untuk mengambil data tersebut. Akhirnya saya memutuskan untuk ambil data.

Karena dinas malam, sebaiknya saya berangkat dari kos jam 8 pm lewat supaya ketika sampai di sana, belum operan yang berarti saya masih bisa ngrecoki responden saya. Ndlalah alhamdulillahnya maghrib turun hujan deras, saya jadi agak ragu mau berangkat. Rencananya saya memang mau berangkat lebih awal untuk beli makan dan mampir belanja sebentar. Ya akhirnya ketunda sampai setelah isya belum berhenti walaupun gerimis.
Sebenarnya selain hujan,ada satu hal lagi yang membuat saya ragu untuk berangkat yaitu lampu rumah utama kosan saya mati karena kongslet. Rada takut keluar kamar karena sorenya dapat cerita-cerita serem.

Sebenarnya bisa saja saya ambil data besok pagi banget sekitar setengah 7 atau jam 7 pagi,tetapi suami saya besok datang ke jogja dan saya harus menjemputnya. Kasian kalau ia harus menunggu. Saya sudah minta izin untuk jemput suami telat, karena males ah hujan, males juga harus nglewatin rumah utama yang gelap. Otak-atik hp eh saya bingung mau ngapain, laptop udah mati juga. Eh akhirnya saya berubah pikiran, sudahlah lawan rasa malas, lawan rasa takut, innallaha ma ana.

Beruntungnya ternyata ada lampu darurat, saya pikir akan benar-benar gelap, hihihi saya sudah parno sendiri awalnya. Alhamdulillah setelah berani melawan rasa malas dan takut, urusan saya beres. Alhamdulillah juga saya sudah berani menghadapi kedua tantangan tersebut, kalau nggak ya besok saya kocar-kacir kebingungan manage waktunya hihihi.

#level2
#KuliahBunSayIIP
#Melatihkemandirian

Selasa, 28 Februari 2017

Memilih untuk Berkutat dengan Angka

Sebagai mahasiswi tingkat akhir, tentunya saya harus melewati yang namanya tugas akhir atau sebut saja tesis. Untuk tesis saya mengambil metode kuantitatif yang nggak jauh-jauh dengan yang namanya angka-angka dan statistik. Jadi saya akan "menjatuh cintakan" diri saya terhadap dua hal tersebut agar bisa segera menyelesaikan tesis dan akhirnya sidang tesis, wisuda, dan bisa mengakhiri masa LDM (can't wait 😆 )

Sering kali saya lihat ada jasa statistik yang menawarkan bantuannya untuk mengolah data. Sempat kepikiran sih saya, tapi saya mengurungkan niat dan memilih untuk belajar mengolah datanya sendiri. Jika kalau pada akhirnya, saya mengalami kesulitan biasanya saya berkonsultasi dengan teman saya yang capaiannya sudah lebih dulu atau yang saya anggap lebih pandai daripada saya.

Alhamdulillahnya, saya masih ada buku yang dulu saya gunakan saat mengolah data skripsi. Buku itu lumayan jelas penyampaiannya dalam memberikan panduan langkah-langkah mengolah data. Sekarang saya masih tahap mengkodekan dulu jawaban-jawaban dari responden penelitian saya. Ini hikmah yang saya coba pikirkan karena saya melakukan sendiri penelitian saya : 
  1. Saya belajar lebih banyak mengenai statistik
  2. Saya nantinya lebih mengetahui kelemahan-kelemahan yang ada dalam proses penyusunan tesis
  3. Saya lebih paham mengenai apa yang saya buat (Jadi kalau ditanya-tanya, bisa jawab hehehe)
  4. Menghemat dana penelitian (karena jasa statistik tidak semurah nasi kucing 😈)
#level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Senin, 27 Februari 2017

Setiap orang punya waktu untuk mandiri

Hari senin, 27 Februari 2017
Kemandirian yang dilatih : menghapal surat al-alaq

Kemarin saya berhasil untuk menghapal surat al bayyinah, alhamdulillah agar tetap ingat saya amalkan dengan membacanya tiap solat. Dengan dibaca terus menerus insyaallah jadi lebih melekat dan bisa terus diamalkan

Pagi ini saya menghapal surat al-alaq,dulu saya pernah hapal tetapi lupa
Awalnya saya mulai dengan audio dulu sambil membaca, tapi ternyata efektif jika saya sudah membaca dulu baru mendengarkan audionya. Saya agak blepotan jika mendengar berbarengan dengan menghapal.

Lagi asyik-asyik menghapal ternyata wa saya bunyi, temen sekelas saya japri yang menurut saya kok pas ya dengan situasi sekarang. Lagi dan lagi , saya anggap ini pesan Allah untuk saya. Ini pesannya :

Copas dari grup sebelah

ZONA WAKTU

New York 3 jam lebih awal dari California, Tapi tidak berarti California lambat, atau New York cepat. Keduanya bekerja sesuai "Zona Waktu"nya masing-masing.
 Seseorang menikah usia 20 th dan menunggu 10 tahun utk memiliki momongan.

Ada juga yang menikah usia 25 memiliki momongan dalam setahun usia pernikahannya.

Jadi tak ada yg ketinggalan

Seseorang lulus kuliah di usia 22th, tapi menunggu 5 tahun utk mendapatkan pekerjaan tetap;

yang lainnya lulus di usia 27th dan langsung bisa bekerja.
Jd tak ada yg tertinggal.

Seseorang menjadi CEO di usia 25 dan meninggal di usia 50 saat yg lain menjadi CEO di usia 50 dan ghidup hingga usia 90th.

Seseorang belajar bahasa Arab sejak usia SD tapi wafat saat usia 45 tahun. Yang lain baru belajar Quran di usia 63 tahun, tapi mampu membaca nya hingga usia 95 tahun, karena di karuniakan kepadanya usia yang panjang nan berkah.

Maka jangan pakai alasan usia sudah (terlalu) tua hingga enggan menghafal Al Qur’an. Jangan redupkan azam untuk menghafal 30 Juz Al Qur’an di usia berapapun kamu sekarang.

Karena setiap orang bekerja sesuai "Zona Waktu"nya masing-masing.

Seseorang bisa mencapai banyak hal dengan kecepatannya masing-masing.
Bekerjalah sesuai "Zona Waktu"mu.

Kolegamu, teman-teman, adik kelasmu mungkin "tampak" lebih maju. Mungkin yang lainnya "tampak" di belakangmu.

Setiap orang di dunia ini berlari di perlombaannya sendiri, jalurnya sendiri, dlm waktunya masing-masing. Allah punya rencana berbeda untuk masing-masing orang. Waktu berbeda utk setiap orang. Obama pensiun dr presiden di usia nya yg ke 55, dan Trump maju di usianya ke 70.

Jangan iri kepada mereka atau mengejeknya...

Itu "Zona Waktu" mereka.
Kamu pun berada di "Zona Waktu"mu sendiri!

Kamu tidak terlambat. Kamu tidak lebih cepat. Kamu sangat sangat tepat waktu! Tetaplah kejar keberkahan Allah…agar sampai pada muara kebahagiaan di surgaNya..

Kamu di "Zona Waktu"mu!

Yang kamu perlukan hanyalah satu : kesungguhan. Sungguh-sungguh.
مَنْ جَدّ وَ جَدًّ.
Bukankah itu motto-mu yang terkenal..?

Semoga Allah selalu Ridho dengan segala aktivitas kita..aamiin

Ya allah,nikmatmu sunggu baik padaku. Diingatkan secara halus. Sebenarnya pesan ini tidak cuma bisa untuk menghapal alquran saja, tapi juga bisa untuk segala macam urusan. Jangan terlalu suka membandingkan diri dengan orang lain,karena Allah selalu punya yang terbaik untuk kita. Kita cuma bisa bersungguh-sungguh hingga waktunya tiba.

#level2
#kuliahbunsayIIP
#melatihkemandirian


Minggu, 26 Februari 2017

Pesan allah untuk melatih kemandirian saya

Hari ini saya melanjutkan untuk melatih kemandirian saya di hari sebelumnya, saya masih bertekad untuk menghapal setidaknya jus 30.
Yang saya lakuin pagi ini adalah, setelah subuh saya baca quran dilanjutkan dengan hapalan. Saya juga menambah metode belajar saya dengan mendengarkan surat alquran yaitu al bayyinah dari rekaman bacaan quran yang saya miliki. Saya akui metode ini cukup efektif bagi saya, 4 ayat nyantol di otak saya.
Hapalan saya lanjutkan lagi di mesjid rsup dr sardjito, setelah pagi-pagi saya ambil data,ada jeda waktu untuk ambil data selanjutnya. Sekitar 1 jam saya d mesjid itu, alhamdulillah hapal 1 surat.
Sore ini ada broadcast dari grup wa, lha kok pas tentang kemandirian yang saya ambil untuk memantaskan diri saya. Saya share ya walaupun agak panjang, tapi ini sebagai renungan terutama untuk saya sendiri :
Berikut ini adalah delapan hal yang insyaaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.


Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau…


“Ustadz, menghafal di tempat antum tu berapa lama untuk bisa khatam?”


“SEUMUR HIDUP”, jawab ust. Dede santai.


Meski bingung, Ibu itu tanya lagi, “Targetnya, Ustadz?”


“Targetnya HUSNUL KHOTIMAH, MATI DALAM KEADAAN PUNYA HAFALAN.”


“Mmm…kalo pencapaiannya, Ustadz?”, Ibu itu terus bertanya.


“Pencapaiannya adalah DEKAT DENGAN ALLAH”, kata ust. Deden tegas.


Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau : CEPAT HAFAL itu datangnya dari ALLAH, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN.


Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu satu jam per hari khusus untuk qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi satu jam.

Mau tahu lebih lanjut, yuk kita pelajari delapan prinsip dari beliau beserta sedikit penjelasan dari saya.


1. MENGHAFAL TIDAK HARUS HAFAL

Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yang berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs -yang mana bacaan kita merujuk pada riwayatnya- yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.


2. BUKAN UNTUK DIBURU-BURU, BUKAN UNTUK DITUNDA-TUNDA

Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah WAKTU KHUSUS untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat ini. Saat dimana kita bercengkrama dengan Allah. satu jam lho. Masak untuk urusan duniawi delapan jam betah :) . Inget, satu huruf melahirkan sepuluh pahala bukan?

So, jangan buru-buru. Tapi ingat, juga bukan untuk ditunda-tunda. Habiskan saja durasi menghafal secara ‘PAS’.


3. MENGHAFAL BUKAN UNTUK KHATAM, TAPI UNTUK SETIA BERSAMA QUR’AN.

Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah BERSYUKUR bukan BERSABAR. Tapi kita sering mendengar kalimat “Menghafal emang kudu sabar”, ya kan? Sebenarnya gak salah, hanya kurang pas saja. Kesannya ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Bukankah di awal surat Thoha Allah berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan BUKAN SEBAGAI BEBAN. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang? Setialah bersama Al-Qur’an.


4. SENANG DIRINDUKAN AYAT

Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga nyantol di memory, sebenarnya ayat itu lagi kangen sama kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Coba dibaca arti dan tafsirnya. Bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan’ kita. Jangan buru-buru suntuk dan sumpek ketika gak hafal-hafal. Senanglah jadi orang yang dirindukan ayat.


5. MENGHAFAL SESUAP-SESUAP

Nikmatnya suatu makanan itu terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Makan pake sendok teh gak nikmat karena terlalu sedikit, makan pake centong nasi bikin muntah karena terlalu banyak. Menghafal-pun demikian. Jika “’amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “’amma” diulang-ulang. Jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “’anin nabail ‘adzhim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing anda.


6. FOKUS PADA PERBEDAAN, ABAIKAN PERSAMAAN

“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka
ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut.


7. MENGUTAMAKAN DURASI

Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI bukan pada jumlah ayat yang akan dihafal. Ibarat argo taxi, keadaan macet ataupun di tol dia berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan satu jam kita pada Allah.. syukur-syukur bisa lebih dari satu jam. Satu jam itu gak sampe 5 persen dari total waktu kita dalam sehari loh! Lima persen untuk Al-Quran, harus bisa dong ah…


8. PASTIKAN AYATNYA BERTAJWID

Cari guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yang ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak dalam hal apapun yang berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran.


NB:

Setiap point dari 1 – 8 saling terkait.

Semoga bermanfaat, niat kami hanya ingin berbagi. Mungkin ini bisa jadi solusi bagi teman-teman yang merasa tertekan, bosan, bahkan capek dalam menghafal.


Kami yakin ada yang tidak setuju dengan uraian di atas. Pro-kontra hal yang wajar karena setiap kepala punya pikiran dan setiap hati punya perasaan. Oh ya, bagi penghafal pemula jangan lama-lama berkutat dalam mencari metode menghafal yang cocok dan pas. Dewasa ini banyak buku ataupun modul tentang menghafal Al-Qur’an dengan beragam judulnya yang marketable. Percayalah, satu metode itu untuk satu orang. Si A cocok dengan metode X, belum tentu demikian dengan si B, karena si B cocok dengan metode Y. Yakini saja sepenuhnya dalam hati bahwa menghafal itu PENELADANAN PADA SUNNAH NABI BUKAN PENERAPAN PADA SUATU METODE.


Satu lagi seringkali teman kita menakut-nakuti, “Jangan ngafal. Awas lho, kalo lupa dosa besar”. Hey, yang dosa itu MELUPAKAN, bukan LUPA. Imam masjidil Harom pernah lupa sehingga dia salah ketika membaca ayat, apakah dia berdosa besar?

Oke ya. Semoga kita masuk syurga dengan jalan menghafal Qur’an. Amin

Tulisan di atas, saya anggap pesan Allah untuk saya karena tepat sesuai dengan yang saya alami. Karena pesan allah kepada hambanya, selalu ada namun sering kali tidak d sadari. Semoga saya makin giat untuk memandirikan diri saya ya ^_^


#level2
#kuliahBunSayIIP
#melatihkemandirian

Sabtu, 25 Februari 2017

Bismillah Memantaskan Diri

Bismillahirrahmanirrahim
Siang tadi saya memutuskan untuk benar-benar mencoba membulatkan tekad untuk memantaskan diri agar segera Allah titipkan amanahnya berupa buah hati kepada saya dan suami. Dari situlah saya mencoba untuk memandirikan diri untuk mencoba hapalan jus 30. Ingin rasanya punya anak soleh dan hafidz, tapi kok malu rasanya saya baru punya hapalan surat pendek yang bisa dihitung dengan jari.

Selepas maghrib tadi saya mencoba membaca surat di jus 30 dan pelan-pelan tanpa membuka halaman di Alquran. Dulu sewaktu kecil saya pernah hapal, namun sudah lupa. Saya masih harus mengulang untuk mempelajari al-bayyinah kembali. Agak susah memang karena masih saya sambi dengan pekerjaan lain. Saya akan mencoba metode dengan mendengarkan audio bacaan qur'an untuk membantu saya untuk dapat menghapal. Di kelas matrikulasi sebelumnya, saya menyadari bahwa saya lebih menyukai pola belajar yang audio visual, dengan gambar-gambar dan suara.

Memulai sesuatu memang lebih mudah dibandingkan untuk menjaga konsistensinya, doakan saya istiqomah ya, minta doanya juga supaya segera Allah titipkan amanah buah hati untuk saya dan suami. Semoga Allah menghitung kemandirian ini sebagai upaya saya untuk memantaskan diri menjadi seorang ibu 🙏

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Jumat, 24 Februari 2017

Saya Pasti Bisa! (Episode 2)

Lanjutan cerita yang sebelumnya, saya melanjutkan latihan kemandirian saya untuk menyetrika baju (Tolong abaikan penampakan kamar saya yang berantakan☺). Kesulitan pada awalnya adalah ingin menunda, padahal sebelumnya baju-baju yang sudah kering sudah langsung saya lipat. Oh iya, sebelumnya saya sempat berpikir untuk ikut dalam Gerakan Tanpa Setrika (GTS) walau hanya untuk 1 bulan. Tetapi sepertinya itu hanya karena diri saya yang tidak bisa melawan rasa malas hehehe.
Kenapa sih saya memilih untuk melatih kemandirian saya yang merupakan sesuatu yang simpel banget dan merupakan rutinitas para ibu?
Jawabannya mungkin hampir sama dengan hikmah kemandirian cuci baju sebelumnya seperti melatih kesabaran, ketelitian, olahraga, dan juga menghemat pengeluaran.
Bagi saya, setrika dapat mengisi waktu luang walaupun saat ini waktu luang adalah hal yang ingin dicari. Ini juga sebagai sarana saya belajar untuk menjadi istri dan ibu yang sesungguhnya. Pekerjaan rumah tangga nantinya tidak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari dan saya juga belum rela untuk melepas pahala pekerjaan rumah tangga yang harusnya milik saya menjadi milik asisten rumah tangga atau pegawai laundry. Tampak idealis tetapi semoga bisa menjadi motivasi saya untuk konsisten, untuk istiqomah menjadi istri dan ibu yang solehah.

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Kamis, 23 Februari 2017

Saya Pasti Bisa!


Sebagai anak kos dan di musim hujan seperti ini, kemandirian yang ingin saya terus latih sekaligus untuk melawan rasa malas saya adalah mencuci baju sendiri hingga menyetrika baju. Kalau dipikirkan itu simpel banget ya, tapi godaan hujan dan kesibukan yang semakin bertambah kadangkala membuat mencuci baju itu adalah pekerjaan berat, terutama cuci baju manual alias tanpa bantuan mesin cuci. Ditambah lagi setiap hari melewati laundry dengan harga memikat.
Keterampilan mencuci baju ini banyak juga lho manfaatnya, diantaranya:

  1. Cuci baju dapat menjadi ajang olahrga dikarenakan gerakan manual gosok-gosok, bilas, angkat, jemur baju.
  2. Cuci baju melatih kesabaran. Dari menunggu rendeman cucian dengan detergen dan juga dilanjutkan menunggu rendeman pewangi.
  3. Cuci baju sendiri dapat menghemat pengeluaran (terutama untuk anak kos seperti saya).
Sekian cerita saya hari ini, doakan saya istiqamah ya. Kemandirian diracik dari niat-niat untuk menjadi lebih baik, dibumbui dengan konsistensi. Saya Pasti Bisa :)

#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian