Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Anak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Januari 2017

Kuning pada Bayi Baru Lahir

Halo mommy, sering dengar dong ya bayi kuning, biasanya para mommy mencegahnya dengan menjemur bayi di pagi hari. Bayi kuning disebabkan adanya hiperbilirubinemia atau kadar bilirubin dalam darah bayi tinggi, perubahan warna ini biasanya dapat dilihat di kulit, kuku, atau mata bayi (bagian putih). Urine bayi dapat berwarna kuning pekat (normalnya tidak berwarna), tinja berwarna pucat serta telapak tangan dan kaki yang menguning.Hiperbilirubinemia fisiologis hampir terjadi pada setiap bayi. Hiperbilirubinemia fisiologis pada bayi sehat dan cukup bulan akan terlihat pada hari ke 2-3 dan biasanya hilang pada hari ke 6-8 tetapi mungkin tetap ada sampai hari ke 14. Pada bayi kurang bulan sehat, hiperbilirubinemia akan terlihat pada hari hari ke 3-4 dan hilang pada hari ke 10-20. 
Lalu bagaimana dengan hiperbilirubinemia non fisiologis? Apabila bayi mengalami hiperbilirubinemia  sebelum bayi berumur 36 jam, atau lebih dari 8 hari pada bayi cukup bulan dan lebih dari 14 hari pada bayi kurang bulan makabisa dikatakan bahwa bayi mengalami hiperbilirubinemia non fisiologis atau patologis. 
Tindakan yang dapat mommy lakukan apabila bayi mommy kuning antara lain mencegah infeksi, menjaga bayi selalu hangat, dan memberi ASI sesering mungkin. Mommy juga harus ke pelayanan kesehatan segera jika telapak tangan dan kaki bayi terlihat kuning. :)

Minggu, 15 Januari 2017

Memilih Alas Kaki yang Tepat untuk Anak

Assalamualaikum mom, tante Ina hari ini akan bahas mengenai alas kaki untuk si kecil. Pilih sandal apa sepatu ya? Model sepatu atau sandal anak sekarang lucu-lucu ya mom, ada kartunnya, ada yang isi lampu, pokoknya macem-macem deh, Tapi yang tepat untuk anak yang seperti apa sih mom?
Ternyata eh ternyata, kita nggak boleh lho hanya memilih alas kaki yang lucu untuk anak, harus juga memikirkan kenyamanan anak. Apalagi anak sedang dalam masa pertumbuhan dan perkembangan, hal ini juga akan mempengaruhi perkembangan kaki anak.

Sandal Jepit Tidak Baik Untuk Anak
Sandal jepit tidak disarankan untuk digunakan anak yang sedang belajar berjalan. Bentuk sandal jepit yang datar tidak baik digunakan setidaknya hingga usia anak 6 tahun. Jika mommy perhatikan, telapak kaki bentuknya melengkung, oleh karena itulah sandal jepit tidak dapat menopang kaki dengan baik. Selain itu, bentuk sandal jepit yang terbuka berisiko anak mengalami cedera. Jika memang terpaksa mommy dapat memilih sandal jepit yang berkontur dan memiliki tali bagian belakang sehingga tidak mudah lepas. Bahannya juga sebaiknya dari plastik sehingga lebih ringan dan alasnya tidak terlalu tipis. Oh iya pemakaian sandal jepit sebaiknya tidak terlalu lama sektar 10-15 menit saja mom.

Penggunaan Sepatu Lebih Disarankan untuk Anak

Sepatu memiliki perlindungan yang lebih menyeluruh ya mom, hal ini selain tertutup tetapi juga berperan membentuk kaki lebih baik. Ada beberapa hal yang perlu tante Ina tekankan dalam memilih sepatu pada anak :

  1. Pilih sepatu yang tertutup berujung bulat dan menyisakan ruang di depan ibu jari sekitar 1-1,5 cm. Sebaiknya mommy tidak membeli sepatu dengan ukuran yang lebih kecil atau lebih besar dari ukuran anak. Hal ini dapat berisiko menyebabkan gesekan pada kaki saat si kecil berjalan, sehingga menyebabkan lecet. 
  2. Pada si kecil yang sedang berjalan, sebaiknya pilih sol yang fleksibel (jangan yang kaku atau keras) karena si kecil membutuhkan alas kaki yang menyesuaikan dengan kakinya pada saat melangkah.
  3. Sebaiknya saat membeli sepatu, usahakan si kecil untuk mencoba dan pastikan agar anak nyaman memakainya. Mommy bisa meminta anak untuk berjalan di sekitar toko, atau juga berjongkok setelah itu perhatikan reaksi anak apakah terlihat nyaman atau tidak. 
Ada baiknya ketika membeli sepatu, libatkan anak untuk memilih sepatu yang disukai. Hal ini akan membantu anak untuk mengembangkan dirinya dalam mengambil keputusan yang sederhana. :)




Kamis, 12 Januari 2017

Mengatasi Keseleo pada Anak

Sebelum tante Ina bahas tentang keseleo atau terkilir, tante Ina mau cerita dulu nih asal mula tema ini diangkat. Jadi tante Ina siang tadi bangun tidur karena ada suara anak kecil nangis. Kalau anak kecil nangis kan sebenarnya biasa, tetapi tangisannya nggak berhenti-henti dan makin lama ada jeritan-jeritan dan teriakan sakit. Akhirnya tante Ina keluar rumah dan cari sumber suara, eh ternyata di rumah tetangga lagi ada anak kecil yang diurut karena keseleo jatuh saat main. Tapi mommy tahu nggak sih mom, keseleo sebenarnya tidak boleh diurut. Pengurutan saat keseleo akan mengakibatkan aliran darah lebih lancar ke area yang bengkak dan dapat berkumpul di area tersebut, sehingga sembuhnya menjadi lebih lama.
Dalam bahasa kedokteran, keseleo ini disebut dengan sprain. Sprain adalah cedera jaringan serat yang fleksibel, kuat, serta menghubungkan antar tulang pada sendi. Si kecil akan merasa sakit apabila jaringan serat ini mengalami cedera, biasanya karena si kecil aktif bermain dan jatuh atau tidak melakukan pemanasan ketika akan berolahraga. Ada beberapa tanda nih mom, untuk memastikan bahwa anak memang benar keseleo, diantaranya :
  • Nyeri sendi
  • Ada pembengkakan
  • Bagian tubuh yang sakit berubah warna menjadi kebiru-biruan atau merah kebiruan
  • Kaku sendi
Nah, jika mommy menemukan tanda-tanda di atas, inget RICE ya mom.
  1. Rest : Istirahatkan bagian tubuh yang sakit. Biasanya pada anak akan diberi tongkat atau benda keras sehingga anak tidak menggerak-gerakkan bagian tubuh yang sakit,
  2. Ice : Kompres bagian tubuh dengan es. Esnya dibalut dulu dengan kain yang tipis sebelum ditempelkan ke bagian tubuh yang sakit. Kompres es bermanfaat saat 24 jam pertama. Jika telah lebih dari 24 jam, maka gunakan kompres hangat.
  3. Compression : Balut tekan dengan kain elastis. Dengan dibalut maka akan mengurangi peradangan, dan memberi rasa nyaman sehingga meminimalkan rasa sakit. Jangan terlalu ketat ya mom membalutnya, pembalutan ini harus terus dipantau.
  4. Elevation : Tinggikan bagian tubuh yang sakit melebihi jantung. Gunanya adalah mengurangi atau meminimalkan pembengkakan. 
Mom, lebih baik mencegah daripada mengobati. Pengawasan yang baik serta persiapan yang tepat untuk anak, bisa mencegah anak dari rasa sakit akibat keseleo, Sekian dari tante Ina, be a smart mom :)

Minggu, 08 Januari 2017

Kupas Tuntas BAB pada anak

Hai mom, beberapa waktu lalu temen tante Ina ada yang cerita nih tentang kesehatan si kecil yang sudah 3 hari tidak BAB padahal sebelumnya setiap hari BAB teratur tetapi si kecil biasa saja, tidak rewel, perut tidak kembung, dan masih beraktivitas seperti biasa. Biasanya untuk mommy yang baru memiliki anak pertama agak khawatir ya mom, begitu juga sama temen tante Ina. Jadi kali ini tante Ina akan mengupas tuntas BAB pada anak, disimak ya mom.

Feses atau BAB pada si kecil yang baru lahir, pertama kali biasanya berwarna kehitaman yang disebut mekonium. Dalam 3 hari pertama, feses akan berubah warna menjadi kehijauan, selanjutnya setelah hari ke 5 feses akan berwarna kekuningan. Konsistensi feses si kecil yang dengan ASI eksklusif biasanya berair atau encer dengan frekuensi 4-10 kali sehari pada bayi yang baru lahir. Frekuensi ini akan berkurang menjadi 2-4 kali sehari pada si kecil yang berusia 6-12 bulan. Untuk si kecil dengan sufor, fesesnya berbeda dengan yang minum ASI. Feses si kecil yang dengan sufor, konsistensinya padat dan warnanya kecoklatan, dan baunya lebih menyengat seperti orang dewasa. Frekuensinya juga menjadi lebih jarang yaitu bisa rutin sekali sehari.

Bagaimana dengan si kecil yang tidak BAB beberapa hari?
Mom, ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola dan frekuensi dari BAB, di antaranya :

  1. ASI/Susu Formula (Pada bayi dengan ASI saja, masih wajar apabila anak tidak BAB selama 3-5 hari selama anak tidak rewel, tidak menunjukkan kesakitan, dan perut kembung. Hal ini dikarenakan ASI mengandung nutrisi yang paling baik dan mudah dicerna serta diserap bagi perncernaan bayi)
  2. Makanan Pendamping ASI (MPASI)
  3. Cairan (Pada anak yang dehidrasi, cenderung lebih jarang BAB)
  4. Penyakit oleh virus atau bakteri (contoh : diare menyebabkan si kecil lebih sering BAB dengan konsistensi yang lebih encer)
Kondisi-kondisi yang perlu mommy khawatirkan ketika si kecil tidak kunjung BAB diantaranya bayi terlihat sakit dan tidak nyaman ketika minum, si kecil tidak mau minum atau minum susunya berkurang dari biasanya, bayi muntah atau perutnya kembung, bayi terlihat mengejan dan terlihat ingin BAB namun tidak bisa.

Tips agar BAB anak lancar dan teratur
Ada beberapa cara yang mommy bisa terapkan untuk si kecil nih, yaitu :
  1.  Melakukan olahraga ringan pada si kecil : Mommy dapat menggerakkan kaki si kecil seperti gerakan mengayuh sepeda. Gerakan ini dapat merangsang usus besar sehingga membantu mengeluarkan gas dan kotoran yang ada di dalam perut.
  2. Pemberian ASI : ASI mengandung nutrisi yang paling lengkap untuk bayi. Kandungan kolostrumnya membantu si kecil BAB secara teratur.
  3. Pijat pada bagian perut : Pijatan pada bagian perut bayi akan menenangkan si kecil dan membantu memudahkan anak untuk BAB. Pijatan dapat dimulai dari pusar hingga arah luar, selanjutnya beri gerakan melingkar searah jarum jam.
  4. Pemberian cairan yang cukup
Sekian pembahasan BAB pada anak, semoga bermanfaat ya smart mom :)

Rabu, 04 Januari 2017

Waspada Anak Batuk dan Sesak, Kenali Tanda Pneumonia

Hai smart mom, ini tulisan tante Ina tentang kesehatan anak yang pertama di tahun 2017. Di awal tahun ini pasti sedih kalau si kecil lagi sakit. Mommy pernah mendengar pneumonia mom, tante Ina akan kupas tuntas penyakit yang masih menjadi pembunuh no 1 pada anak dan balita.

Pneumonia biasanya disebabkan oleh virus atau bakteri. Mommy harus waspada bila si kecil mengalami batuk atau kesulitan bernapas hingga sesak napas yang membuat dinding dada si kecil bagian bawah tertarik. Demam juga akan timbul terutama pada si kecil yang mengalami pneumonia oleh karena bakteri. Tanda bahaya lain yang harus mommy kenali dan si kecil harus segera di rujuk ke pelayanan kesehatan antara lain demam/suhu tubuh naik turun, kesadaran menurun/mengantuk terus, tidak mau minum, kejang, kebiruan, mengorok, dan gizi buruk. 

Pada saat si kecil batuk atau kesulitan bernapas dan mommy bawa ke pelayanan kesehatan, maka dokter akan mengelompokkan gejala-gejala yang dialami oleh si kecil sesuai usianya (Tabel Klasifikasi Pneumonia). Mom, untuk anak yang mengalami pneumonia akan diberikan antibiotik, namun jika menurut hasil pemeriksaan pneumonia anak disebabkan oleh virus, maka dokter akan menghentikan antibiotik. Pada saat si kecil sakit, yang harus mommy lakukan adalah tetap memberikan cairan yang sedikit-sedikit dan sering dan anak juga membutuhkan istirahat yang cukup. 

Tenang mom, penyakit ini bisa dicegah kok. Ada beberapa pencegahan yang dapat mommy lakukan, di antaranya :

  1. Menjauhkan si kecil dari penderita batuk atau penyakit infeksi lainnya
  2. Lakukan imunisasi lengkap pada anak
  3. Berikan ASI eksklusif (6 bulan) dan lanjutkan hingga si kecil usia 2 tahun
  4. Pastikan lingkungan rumah bersih dan sehat,  serta ventilasi yang cukup.
  5. Sebaiknya si kecil dijauhkan dari asap rokok, asap tungku, obat nyamuk, kendaraan bermotor atau polusi udara lainnya.
  6. Lakukan cuci tangan enam langkah dengan sabun dengan tepat di waktu yang tepat.
  7. Berikan nutrisi yang adekuat untuk si kecil.
Mom, mengenali tanda pneumonia lebih awal menjadi salah satu cara mencegah kematian karena pneumonia pada anak, namun mencegah lebih baik daripada mengobati. Ayo bersama kita cegah pneumonia pada anak :)





Jumat, 07 Agustus 2015

Mencegah si Kecil Terkena Infeksi Saluran Kemih

Mom, infeksi saluran kemih atau ISK tidak hanya bisa ditemukan pada orang dewasa, bahkan si kecil pun mempunyai risiko untuk terkena ISK. ISK dapat terjadi akibat bakteri atau virus atau jamur yang berada pada saluran kencing si kecil, namun bakteri merupakan penyebab umum terjadinya ISK. Normalnya, bakteri dalam urin akan keluar pada saat buang air kecil, tetapi terkadang bakteri dapat tertahan di saluran kecing dan menimbulkan infeksi.

Mom, si kecil yang baru lahir baik laki-laki maupun perempuan mempunyai risiko yang sama besarnya untuk terkena ISK. Namun bila sudah besar, anak perempuan memiliki risiko yang lebih besar dibandingkan laki-laki karena saluran kencing anak perempuan lebih pendek. Selain itu letak  saluran kencing, vagina, dan dubur pada perempuan berdekatan, sehingga memudahkan bakteri masuk ke saluran kencing. 

Mom,apakah si kecil selalu menangis atau mengeluh sakit pada saat buang air kecil? Bisa jadi si kecil sedang terkena infeksi saluran kencing. Sebenarnya gejala ISK pada anak tergantung pada usia. Saat usia sudah cukup besar, si kecil dapat mengeluh saat buang air kecil, Jika sudah agak parah, air seni akan berwarna keruh atau bahkan berwarna pink karena terdapat bercak darah. Selain itu, akan lebih sering mau buang air kecil terutama pada malam hari, munculnya rasa sakit pada punggung bagian bawah, serta urin cenderung lebih bau. 
Jika si kecil masih bayi atau berusia 1-2 tahun, gejala yang ditemukan masih belum jelas karena mereka belum mengerti apa yang mereka rasakan. Namun, ini gejala umum yang perlu diwaspadai pada si kecil :
  • Demam tidak disertai flu atau penyakit lainnya
  • Nafsu makan menurun
  • Muntah
  • Urin berbau tak seperti biasa
  • Lebih rewel dari biasanya.
Ini tips untuk mencegah si kecil terkena ISK :
  • Memberikan Asi : Pemberian ASI eksklusif dapat mengurangi risiko ISK bahkan hingga usia 2 tahun.
  • Membiasakan untuk membersihkan organ vital dari arah depan ke belakang  : Hal ini membantu mencegah bakteri masuk ke dalam saluran kencing
  •  Membiasakan anak untuk buang air kecil secara teratur : Pada anak dengan usia yang lebih besar, kita dapat memastikan si kecil untuk buang air kecil secara teratur dengan cara mengawasi asupan air putih yang dikonsumsi. Sebaiknya pastikan anak buang air kecil minimal empat jam sekali, sebelum tidur, dan setelah bangun tidur.
  • Memilih Celana Dalam yang Tepat : Sebaiknya hindari penggunaan celana dalam yang ketat terutama pada anak perempuan. Pemilihan bahan juga sebaiknya diperhatikan, hindari bahan nilon dan sintetik lainnya karena dapat mendorong pertumbuhan bakteri.
Be a smart mom y :) 

Senin, 27 Juli 2015

Mencegah dan Mengatasi Ruam Popok

Mommy, istilah ruam popok sudah bukan hal yang asing terdengar ya mom. Namun, kebutuhan si kecil untuk menggunakan popok kadang-kadang tidak bisa dihindari sehingga si kecil berisiko ruam popok. Kali ini, tante Ina bahas ruam popok ya. Disebut ruam popok dikarenakan timbulnya peradangan akibat penggunaan popok karena reaksi kulit terhadap urin dan tinja. Sehingga lokasi yang timbul ruam biasanya daerah pantat, lipatan paha, dan alat kelamin. Gejala yang dapat dialami oleh si kecil seperti kulit kemerahan, gatal, dan dapat timbul lecet. Ruam ini umumnya tidak berbahaya, namun si kecil merasa tidak nyaman sehingga biasanya rewel.

Beberapa faktor penyebab yang menimbulkan ruam popok yaitu :
1.Kontak dengan urin dan tinja yang terlalu lama. Penggantian popok yang terlalu lama dapat menimbulkan iritasi.
2.Gesekan dan lecet akibat penggunaan popok yang terlalu lama
3.Iritasi karena penggunaan produk bayi yang baru 
4.Infeksi bakteri atau jamur 
5.Pengaruh Jenis Makanan Baru. Perpindahan konsumsi ASI ke makanan padat juga akan mengubah struktur tinja si kecil, termasuk makanan yang dikonsumsi ibu.

Tidak perlu khawatir berlebihan jika si kecil mengalami ruam popok, karena mommy bisa mengatasi ruam popok di rumah. Kuncinya adalah menjaga agar kulit bayi tetap kering dan bersih. Langkah-langkah yang bisa dilakukan adalah untuk mengatasi dan mencegah ruam popok antara lain :
•Segera ganti popok yang kotor dan lakukan sesering mungkin kemudian bersihkan secara seksama bagian tubuh si kecil yang tertutup popok
•Jangan gunakan sabun atau tisu yang mengandung alkohol dan pewangi untuk membersihkan kulit bayi karena mengandung bahan kimia yang dapat mengiritasi kulit.
•Setelah dibasuh, seka kulit bayi hingga benar-benar kering sebelum menggunakan popok atau celana.
•Sebaiknya si kecil tidak selalu menggunakan popok. Biarkan kulit si kecil “bernapas” sehingga risiko ruam popok dapat berkurang.
•Hindari penggunaan bedak karena bedak dapat mengiritasi kulit.
•Sesuaikan ukuran popok si kecil, jangan menggunakan yang terlalu ketat. Apabila si kecil mengalami ruam popok, pilihlah ukuran popok satu kali lebih besar dari ukuran si kecil.
•Oleskan krim atau salep pencegah ruam popok tiap mengganti popok. Obat oles ini umumnya memiliki bahan dasar zinc oxide yang berguna mengatasi ruam popok.
•Jangan lupa untuk mencuci tangan sebelum dan setelah mengganti popok.

 Ayo sehatkan si kecil, be a smart mom 

Jumat, 24 Juli 2015

Alasan MPASI Sebaiknya Diberikan Setelah 6 Bulan

Beberapa waktu lalu di akun facebook tante Ina, Tante Ina sempat membagikan postingan cerita ibu yang anaknya mengalami gangguan pencernaan hingga harus dioperasi akibat terlalu dini memberikan MPASI. Si kecil sudah mulai diberikan bubur instan sejak usia 4 bulan dan akibatnya di usia 6 bulan. Tante Ina akan bahas alasan kenapa MPASI sebaiknya diberikan setelah 6 bulan. 

1.     Memberikan perlindungan ekstra dari penyakit 
Pada usia <6 bulan, daya tahan tubuh bayi belum sempurna. ASI yang diberikan secara eksklusif selama 6 bulan ini berguna untuk meningkatkan daya imun anak. Namun apabila <6 bulan sudah diberikan MPASI justru memberikan jalan masuk kuman ke dalam tubuh bayi. Terutama apabila peralatan yang digunakan tidak higienis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang diberikan MPASI <6 bulan lebih mudah terserang diare, batuk,pilek, demam dibandingkan dengan yang diberikan ASI eksklusif.
2.     Sistem Pencernaan Relatif Lebih Sempurna
·        Bayi <6 bulan sistem pencernaannya belum sempurna sehingga apabila diberikan selain ASI maka organnya akan bekerja lebih keras untuk mencerna MPASI yang diberikan. Oleh sebab itu, mudah timbul gangguan pencernaan seperti kembung dan konstipasi.
·        Selain itu, sel-sel di sekitar usus pada bayi <6 bulan belum siap untuk menerima zat makanan yang dikonsumsi sehingga dapat timbul reaksi imun dan mengakibatkan alergi pada makanan yang dikonsumsi. Selain itu lapisan usus bayi usia 4-6 bulan umumnya belum tertutup sempurna sehingga memudahkan protein-protein makanan yang dikonsumsi lebih mudah menyebabkan alergi. Kondisi itu juga memudahkan bakteri patogen masuk ke dalam aliran darah sehingga menimbulkan penyakit. Umumnya produksi antibodi dan lapisan usus bayi akan menutup sempurna sekitar usia 6 bulan.
·        Beberapa enzim pemecah protein seperti pepsin, lipase, dan amilase, serta asam lambung  juga baru akan diproduksi sempurna ketika usia 6 bulan. Oleh karena itu, pemecahan sari-sari makanan dalam tubuh bayi <6 bulan belum sempurna sehingga berpeluang mengalami obesitas.

Semangat untuk para mommy yang akan atau sedang memberikan MPASI untuk si kecil. Be a smart mom J




Rabu, 01 Juli 2015

Tips Mengajak Anak Naik Pesawat Terbang

Karena sudah mendekati mudik alias pulang kampung, tante Ina akan memberikan tips-tips dan hal yang berguna untuk mommy bepergian bersama si kecil dengan menggunakan pesawat terbang. Kebetulan tahun ini, ponakan tante Ina si Zaky, Hanna, dan adik Killa mau seru-seruan naik pesawat terbang. Kan kasian mereka kecapekan di jalan jadi sekalian deh tante Ina buat tips untuk ummi dan bunda.
  1. Disarankan memilih waktu penerbangan yang nyaman untuk si kecil. Sebaiknya untuk memilih jam tidur untuk anak sehingga pada saat di pesawat, si kecil tertidur pulas dan menjadi kenyamanan tersendiri untuk mommy.
  2. Pilihlah tempat duduk yang tepat. Suara bising pesawat lebih terdengar di bagian kabin bagian belakang. Selain itu, sebaiknya mommy memilih kursi yang dekat dengan lorong sehingga lebih leluasa saat akan ke toilet atau berjalan-jalan di lorong mengusir rasa bosan si kecil.
  3. Jaga Kesehatan. Untuk bayi sebaiknya ditunggu hingga usia 3 bulan karena pada usia ini fisiologi pertumbuhan dan perkembangan bayi cukup maksimal terutama untuk perubahan suhu dan berbagai perubahan lainnya. Untuk anak yang sedang mengalami flu, sebaiknya keberangkaan ditunda lebih dahulu. Saluran pembuluh Eustachii penghubung ruang telinga dan tenggorokan pada balita, belum sempurna buka tutupnya, sehingga perubahan tekanan udara di dalam pesawat bisa saja memunculkan keluhan tidak enak di telinga. Telinga si kecil akan merasa nyeri, penuh dan mungkin saja dapat menyebabkan pecahnya gendang telinga.Oleh karenanya, untuk mencegahnya sebaiknya si kecil diberikan vitamin dan makanan bergizi beberapa hari sebelum keberangkatan sehingga daya tahan tubuhnya meningkat.
  4. Datang Lebih Awal Untuk Check In. Hal ini untuk mencegah anda terburu-buru masuk ke pesawat dan membiarkan si kecil bermain-main di ruang tunggu. Semakin banyak aktivitas si kecil sebelum terbang, semakin dianjurkan sehingga pada saat di pesawat si kecil dapat tertidur pulas.
  5. Gunakan Tas yang Ringkas dan Jangan Lupa Perlengkapan Wajib. Sebaiknya memilih tas ransel sehingga lebih ringkas dan perhatikan berat barang bawaan yang mommy bawa karena mommy harus menggendong si kecil. Perlengkapan wajib ini ditujukan untuk mempersiapkan diri dari pesawat yang terlambat seperti baju ganti, popok, tisu basah, susu dan makanan.
  6. Berikan Camilan dan Minuman. Berikan makanan pada saat pesawat tinggal landas dan mendarat karena akan terjadi perubahan tekanan udara yang menyebabkan telinga sakit. Berikan hingga pesawat berada pada ketinggian yang stabil. Aktivitas menelan ini berguna untuk menyeimbangkan tekanan dalam telinga. Pada bayi susui atau berikan empeng untuk dihisap. Kondisi perut yang kenyang juga mencegah si kecil rewel. 
  7. Kenakan Baju Hangat, Topi, dan Kaos Kaki. Suhu kabin cenderung dingin untuk si kecil. Hindari pula untuk mengarahkan AC secara langsung pada si kecil. 
  8. Persiapkan Mainan dan Gadget. Penerbangan yang lama tentunya akan membuat si kecil bosan dan rewel. Ajak si kecil beraktivitas bersama seperti membacakan cerita, membawa mainan kesukaannya, Bermain dengan gadget juga akan membuat si kecil tenang untuk duduk dan tidak bosan selama penerbangan. 
Sekian mom, tips kali ini. Please, be a smart mom :)

Sabtu, 27 Juni 2015

Perawatan Mulut pada Bayi

Halo mom, kali ini Tante Ina bahas mengenai perawatan mulut pada bayi. Si kecil sebaiknya ditanamkan kebiasaan merawat bagian mulutnya sejak dini sehingga menjadi sebuah kebiasaan baik di masa mendatang. Selain itu, dapat mencegah timbulnya jamur pada mulut si kecil terutama bagian lidah. Bagi mommy yang menyusui si kecil, memang tidak perlu merasa khawatir jika menemui bercak-bercak putih pada bagian mulut, seperti bibir, bagian dalam pipi, langit-langit dan lidah yang ditimbulkan oleh ASI karena memang tidak membahayakan bayi. Namun, bagi si kecil yang minum susu formula sebaiknya tetap membersihkan mulut bayi dengan bersih dan teratur.

Mom, untuk membersihkan mulut si kecil, mommy bisa menggunakan sikat khusus untuk membersihkan lidah bayi atau alternatif lain adalah menggunakan kasa steril yang telah dibasahi air matang hangat. Ini langkah-langkah yang mommy harus perhatikan :

  1. Berikan posisi yang nyaman pada bayi. Pangku si kecil atau berikan posisi yang terlentang agar lebih mudah membersihkan mulutnya. 
  2. Basahi kasa steril dengan air hangat matang kemudian balut dengan cara dilingkarkan pada jari telunjuk mommy. 
  3. Dengan bantuan jari tangan, buka mulut si kecil kemudian masukkan jari telunjuk dan gosok gusi secara perlahan mulai dari bagian belakang atas hingga ke depan atas. Setelah selesai, bersihkan gusi bagian bawah dari belakang terus ke depan.
  4. Ingat untuk membersihkan lidah si kecil. Lakukan mulai dari pangkal lidah, lalu perlahan-lahan ke bagian depan. Sebaiknya tidak mengusap bagian terlalu dalam belakang lidah karena si kecil dapat tersedak.  
Mom, sebaiknya diingat kapan terakhir si kecil makan atau minum susu. Sebaiknya membersihkan mulut 30 menit sebelumnya sehingga pada saat mulut dibersihkan, si kecil tidak mengalami muntah. :)

Senin, 22 Juni 2015

Perawatan untuk Anak Setelah Sunat

Setelah sunat atau khitan atau sirkumsisi sebaiknya diperhatikan perawatannya. Setelah anak pulang ke rumah, otomatis perawatan akan dilakukan oleh orangtua. Hal inilah yang membuat orangtua memiliki peranan untuk membantu mempercepat penyembuhan luka setelah sirkumsisi. Tante Ina akan memberikan beberapa hal yang sebaiknya diketahui oleh orangtua :
  1. Berikan obat penghilang rasa sakit. Obat bius lokal yang diberikan pada proses sirkumsisi umumnya hanya bertahan selama satu hingga satu setengah jam. Obat penghilang rasa nyeri ini bertujuan untuk mengurangi rasa sakit setelah efek obat bius lokal telah habis.
  2. Jaga area organ vital tetap kering. Ini merupakan prioritas utama agar luka sirkumsisi tidak infeksi. Dianjurkan setelah sirkumsisi mengunakan celana yang longgar atau sarung untuk menghindari gesekan. Saat ini telah tersedia pula yang disebut celana khitan. Pada saat setelah buang air kecil, bersihkan lubang kecil secukupnya dan tidak mengenai luka khitan, tidak dianjurkan untuk menggosok luka bekas sunat karena bisa mengakibatkan luka berdarah kembali. Beberapa anak takut untuk BAK karena rasa nyeri atau takut, namun sebaiknya jika anak tidak BAK dalam 8 jam setelah sirkumsisi hubungi dokter.
  3. Berikan makanan tinggi protein seperti telur, ikan, dan daging. Mitos yang salah dan berkembang di masyarakat adalah tidak diperbolehkannya memakan telur, ikan dan daging. Padahal protein dibutuhkan untuk membantu mempercepat penyembuhan. 
  4. Oleskan salep tipis dan tidak berlebihan. Beberapa orang tua takut anaknya mengalami infeksi setelah sirkumsisi sehingga mengoleskan salep obat yang diberikan terlalu banyak pada luka. Ditakutkan pemberian obat yang terlalu banyak tidak disertai dengan pembersihan yang baik sehingga justru menimbulkan penumpukan kotoran dan akhirnya infeksi. 
  5. Anjurkan anak untuk tidak beraktivitas secara berlebihan. Setelah sirkumsisi, sebaiknya anak dianjurkan untuk mengurangi aktivitas dan beristirahat selama beberapa hari agar tidak terjadi bengkak yang berlebihan. 
  6. Ada dua pandangan mengenai pemakaian perban, Beberapa dokter menganjurkan untuk tetap mengganti dan menggunakan perban setelah sirkumsisi selama 3-4 hari dan adapula yang setelah 24 jam dapat dilepas sendiri di rumah. Pada prinsipnya adalah tetap menjaga kebersihan dan suasana kering pada luka sirkumsisi.
Tidak perlu khawatir apabila masih timbul titik perdarahan yang sedikit. Yang perlu dikhawatirkan apabila anak mengalami perdarahan secara terus menerus dan atau tampak mengeluarkan cairan yang berbau tidak sedap. :)

Sabtu, 20 Juni 2015

Mengenal Anak "Picky Eater"

Mom, sudah pernah dengar picky eater? Picky Eater adalah anak yang menolak makanan tertentu dan pilih-pilih makanan, namun masih mengkonsumsi minimal satu macam dari tiap kelompok bahan makanan (karbohidrat, protein, sayur/buah, susu). Kesulitan makan ini lazim pada balita yang beralih dari makanan cair ke makanan padat. Oleh karena Picky eater ini biasa ditemui pada anak usia 6 bulan hingga 6 tahun. Yang ditakutkan adalah keseimbangan gizi yang diterima anak sehingga anak berisiko menjadi kurang gizi.

Beberapa hal menjadi penyebab dari anak menjadi picky eater, salah satu diantaranya adalah faktor meniru kebiasaan orangtuanya. Penyebab lain yang timbul antara lain bentuk makanan yang tidak menarik dan tidak bervariasi, serta dapat pula dari faktor psikologis anak, seperti suasana rumah yang tegang, pengasuhan orangtua yang keras, kurangnya kasih sayang orang tua baik kualitas maupun kuantitas, serta hubungan orangtua yang tidak harmonis dan dapat dirasakan oleh anak.

Dalam menghadapi anak yang picky eater diperlukan kesabaran orang tua dalam memberikan makan. Lakukan pendekatan secara bertahap dalam memperkenalkan satu rasa makanan yang sama. Sebaiknya pula tidak menargetkan atau memaksa anak untuk tetap makan padahal anak sudah tidak ingin makan. Suasana saat anak makan dibuat menjadi suasana menyenangkan seperti makan bersama teman-temannya atau makan bersama keluarga yang lain. Berikan menu yang sama pada anak artinya tidak ada perbedaan menu makanan yang dimakan oleh anak dan orangtua. Mommy juga sebaiknya menyajikan makanan dengan lebih kreatif dan bervariasi. Gunakan pula trik menyembunyikan makanan yang tidak disukainya ke dalam makanan yang disukai.

Kamis, 18 Juni 2015

Mengatasi Hidung Tersumbat Pada Anak Tanpa Obat

Halo mom, melihat si kecil kesulitan bernapas karena hidung tersumbat akibat pilek pasti sedih ya mom. Si kecil jadi rewel, susah bernapas hingga susah tidur. Sebagai seorang ibu, mommy harus segera tanggap untuk membantu mengatasi hidung tersumbat si kecil. Berikut cara-cara yang mommy bisa lakukan secara mandiri :

  • Mengatur Posisi Tidur : Posisi tidur dengan kepala agak tinggi akan membantu si kecil melegakan pernapasannya. Apabila hidung kiri yang tersumbat, si kecil sebaiknya tidur miring ke kanan. Begitu pula sebaliknya jika hidung kanan yang tersumbat, si kecil sebaiknya tidur dengan posisi miring ke kiri.
  • Penguapan atau Inhalasi secara Alami : Sediakan baskom atau ember kecil yang berisi air panas, kemudian teteskan beberapa tetes minyak telon atau minyak kayu putih. Biarkan si kecil menghirup uap dari air tersebut dengan menggendong si kecil dengan membantunya untuk telungkup pada kedua tangan mommy dan posisi wajah si kecil berada di atas ember yang berisi air hangat.
  • Berikan Kehangatan Pada Tubuh Si Kecil : Pada saat si kecil mengalami hidung tersumbat, sebaiknya kehangatan tubuh tetap di jaga. Dengan cara mandi dengan air hangat, menjemur di bawah sinar matahari, serta mengoleskan minyak telon atau minyak kayu putih pada area dada, punggung, serta perut dengan disertai pijatan yang lembut. 
  • Gunakan Larutan Garam : Dengan bantuan pipet teteskan 2 atau 3 tetes larutan garam ke dalam hidung si kecil lalu diamkan beberapa menit maka lendir di hidung akan melunak dan hidung tersumbat pada bayi dapat teratasi. Di saat lendir melunak, mommy bisa menghisap lendir dengan menggunakan alat yang disebut aspirator. Lakukan sebelum makan dan sebelum tidur. Hati-hati saat menggunakan larutam garam ini, sebaiknya mommy membeli di apotek agar sesuai dengan takaran yang tepat. Sebaiknya untuk mommy baru, meminta bantuan orangtua yang telah berpengalaman melakukan hal ini. 
Be a smart mom :)